Kamis, 26 November 2015

Iptek dan Lingkungan



Mobil Listrik Ramah Lingkungan


Polusi dan asap. Dua hal yang saat ini senantiasa hadir di udara. Kerapnya polusi dan asap yang mencemari udara bersih yang seharusnya menjadi santapan kita, membuat beberapa orang tergerak untuk menciptakan dan menggalakkan transpotasi yang ramah terhadap lingkungan.
Transportasi ramah lingkungan dijadikan sebagai konsep strategi yang diharapkan mampu menjaga kelestarian lingkungan. Alat transportasi paling ramah lingkungan adalah sepeda. Tetapi sayangnya, sepeda kalah saing dan seolah tersingkirkan oleh canggihnya kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor yang saat ini ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan besar bukan merupakan transportasi yang ramah lingkungan. Karena kendaraan-kendaraan tersebut mengotori udara dengan asap-asap yang dikeluarkan, polusi udara bahkan polusi suara pun timbul.
Polusi udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia, atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan, mengganggu estetika dan kenyamanan. Polusi udara banyak disebabkan oleh transportasi. Banyak penyakit yang ditimbulkan oleh polusi udara ini seperti asma, bronchitis, serangan jantung dan stroke. Sebuah data juga menunjukkan bahwa pencemaran udara khusus dari kegiatan transportasi diperkirakan telah mengakibatkan  kematian 200.000 orang  sampai 570.000 orang setiap tahun di seluruh belahan bumi.
Selain itu, ada polusi suara pun timbul karena transportasi yang tidak ramah lingkungan. Polusi suara merupakan gangguan pada lingkungan yang diakibatkan oleh bunyi atau suara yang mengganggu. Polusi suara disebabkan oleh suara bising kendaraan yang berbunyi keras dan mengganggu pendengaran. Untuk mengurangi polusi-polusi tersebut, beberapa orang mencoba membuat transportasi yang ramah lingkungan yaitu mobil listrik. Mobil listrik kini sudah mulai muncul walaupun belum terlalu populer dan belum diproduksi secara massal.
 Mobil listrik adalah mobil yang menggunakan tenaga listirk. Yang merupakan salah satu wujud solusi ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap krisis energi saat ini. . Mobil listrik menggunakan  energi listrik ramah lingkungan, bahkan hampir nol emisi. Masalah yang umum terjadi pada mobil listrik adalah kapasitas baterai dalam menyimpan energi saat ini masih belum sebanyak bensin pada berat yang sama. Saat ini, mobil listrik baru dipakai secara terbatas di bandara, rumah sakit, hotel dan masih dalam kapasitas yang terbatas. Sebenarnya mobil listrik ini telah mulai diciptakan sejak tahun 1999. Pada tahun 2000 mobil lsitrik difokuskan penelitian sistem energi, termasuk sistem charging dan baterai yang paling tepat. Ternyata baterai basah (lead acid) adalah alternatif paling pas.
 Sumber : https://naturologyesa.wordpress.com/opini/mobil-listrik-ramah-lingkungan/

Penduduk dan Tingkat Pendidikan di Indonesia

1. Kualitas Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan
Menurut tingkat pendidikannya, penduduk dapat dikelompokkan menjadi penduduk yang buta huruf dan yang melek huruf. Penduduk yang melek huruf dapat dikelompokkan lagi menurut tingkat pendidikannya, seperti kelompok tidak sekolah, tidak tamat Sekolah Dasar, tamat Sekolah Dasar, tamat Sekolah Menengah Pertama, tamat Sekolah Menengah Atas, tamat Akademi/Perguruan Tinggi, dan lain-lain.
Tingkat pendidikan berkaitan erat dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di samping itu penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi memudahkan penduduk dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidup, sehingga taraf hidupnya selalu meningkat. Sebaliknya, tingkat pendidikan yang rendah dapat menyebabkan lambannya kenaikan taraf hidup dan akibatnya kemajuan menjadi terhambat.
Tingkat pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara-negara di dunia lainnya. Beberapa hal yang menyebabkan rendahnya tingkat pendidikan di Indonesia adalah sebagai berikut.
1) Masih kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan. Sebagian penduduk masih menganggap bahwa sekolah itu tidak penting.
2) Pendapatan penduduk yang rendah menyebabkan anak tidak dapat melanjutkan sekolah karena tidak mempunyai biaya.
3) Kurang dan tidak meratanya sarana pendidikan. Sarana pendidikan yang dimaksud, misalnya gedung sekolah, ruang kelas, buku-buku pelajaran, alat-alat praktikum, guru yang berkualitas, dan lain-lain.
Untuk menaikkan tingkat pendidikan penduduk, pemerintah Indonesia mengambil langkah-langkah, antara lain sebagai berikut.
1) Membangun sekolah-sekolah baru terutama SD Inpres di daerah-daerah yang kurang jumlah sekolahnya.
2) Mengadakan perbaikan dan penambahan alat-alat praktikum, laboratorium, perpustakaan, dan buku-buku pelajaran.
3) Menambah dan meningkatkan kualitas guru.
4) Mencanangkan program wajib belajar dan orang tua asuh.
5) Memberikan beasiswa kepada murid-murid yang berprestasi atau yang memerlukan bantuan.

2. Kualitas Pendidikan di Indonesia Masih Rendah
Jakarta - Pemerintah harus bisa meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dengan cara meningkatkan kualitas pendidikan. Jika kualitas pendidikan dan SDM sudah mumpuni, maka Indonesia berpeluang menjadi basis produksi dan menguasai pasar Asean Economic Community (AEC) 2015.
Demikian yang dikemukakan oleh Direktur Pendidikan Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas), Subandi Sardjoko.
Ia mengatakan, berdasarkan data United Nations Development Program (UNDP) 2011, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia berada di urutan 124 dari 187 negara yang disurvei dengan indeks 0,67 persen. Sedangkan Singapura dan Malaysia mempunyai indeks yang jauh lebih tinggi yaitu 0,83 persen dan 0,86 persen.
Menurut Subandi, Indeks tingkat pendidikan tinggi Indonesia juga dinilai masih rendah yaitu 14,6 persen, berbeda dengan Singapura dan Malaysia yang sudah mempunyai indeks tingkat pendidikan yang lebih baik yaitu 28 persen dan 33 persen.
Dia mengatakan, masih rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia, akan melemahkan daya saing Indonesia dalam menghadapi masyarakat ekonomi Asean 2015. Oleh sebab itu, lanjut Subandi, kunci untuk meningkatkan daya saing Indonesia, dengan meningkatkan kualitas pendidikan dan melakukan terobosan terbaru dalam sektor pendidikan.
Sebenarnya, kata Subandi, kualitas SDM di Indonesia sudah cukup bagus. Tinggal bagaimana cara pemerintah dan Perguruan Tinggi mengasah SDM tersebut menjadi SDM yang hebat. Jika kolaborasi pemerintah dan perguruan tinggi sudah kuat, maka Indonesia akan mencetak SDM terbaik setiap tahunnya.
"Meningkatkan Kualitas SDM dengan cara meningkatkan kualitas pendidikan adalah solusi tepat yang harus dilakukan agar Indonesia berpeluang menguasai AEC 2015," ujar Subandi saat ditemui dalam acara Pembukaan Pameran Pendidikan Tinggi Uni Eropa (European Higher Education Fair) di Hotel Grand Sahid Jaya, Sabtu (12/10).
Dia menjelaskan, saat ini pemerintah mempunyai program wajib belajar sembilan tahun. Menurut Subandi, program tersebut akan terus dipertahankan karena setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.
Selain itu, pemerintah juga akan meningkatkan kualitas kurikulum pendidikan, baik itu di sekolah sekolah maupun perguruan tinggi. Tak hanya itu, lanjut dia, kurikulum yang digunakan haruslah bersifat world update dimana kurikulum tersebut harus mengikuti perkembangan dunia.
Labih dari itu, Subandi menuturkan, dosen, guru dan tenaga pengajar juga menjadi prioritas pemerintah untuk ditingkatkan kualitasnya. "Kami akan selalu support dosen atau guru yang ingin melanjutkan sekolah mereka ke luar negeri dengan memberikan beasiswa. Jika kualitas dosen dan guru baik, maka akan mempengaruhi kualitas anak didiknya," ujar dia Ridho Syukro.