Senin, 25 Januari 2016

PENGOBATAN AWWAASIN ALKAI DAN AHMAD IBNU RUMAN

Mengenal Model Pengobatan dan Tokoh Medis Islam Selain Ibnu Sina
Umumnya orang telah mengenal model-model pengobatan, baik yang modern, alami, maupun yang sifatnya perdukunan (kahin). Begitu banyak jenis pengobatan sehingga berbagai alternatif dapat ditempuh dalam rangka untuk berobat, dengan seizin Allah SWT, untuk mencapai kesembuhan. Masyarakat telah mengenal apa itu Akupunktur, Akupressor, berbagai jenis lashah (masase), dan lainnya. Namun, masyarakat belum bahkan mungkin masih asing mendengar pengobatan yang disebut "Awwaasin Alkai".

Apa Itu Awwaasin Alkai?

Pengobatan Awwaasin Alkai (untuk seterusnya disebut Alkai), sesuai dengan perkembangan zaman, terbagi ke dalam dua bentuk, yaitu Awwaasin Alkai lama dan Awwaasin Alkai baru.

A. Awwaasin Alkai Lama
Orang-orang menyebutnya Alkai model lama. Jenis ini tersebar pada thabib-thabib yang berpendidikan rendahan atau sama sekali tidak bersekolah formal. Kebanykan di antara mereka belajar dengan cara mengikuti thabib lain; atau berupa warisan turun temurun. Mereka menggunakan sembarang logam (terbuat dari besi atau tembaga) yang bentuknya kasar dan kotor. Cara yang dilakukan adalah dengan cara mencapkan (menusukkan) besi merah membara pada titik sakit pada bagian tertentu dari tubuh. Model lama ini ada di Mesir sejak zaman Firaun sampai zaman perkembangan Islam. Alkai lama ini juga ditemukan pada ilmu kedokteran Assyiria, Yunani, Romawi, Saba, Persia, dan dilakukan juga oleh thabib-thabib Bani Israel.

Sampai pada zaman Rasulullah saw, Alkai lama masih dipergunakan. Tetapi biasanya dipergunakan untuk pengobatan pada kasus pagutan ular berbisa, kala, dan hewan berbisa lainnya. Abu Thalhah adalah seorang shahabat yang mahir melakukan pengobatan Alkai ini. Namun Alkai bakar merupakan pilihan terakhir manakala ikhtiar seorang thabib telah menemui jalan buntu. Pepatah Persia mengatakan "Akhir pengobatan (Ad Dawa') adalah Alkai". Sampai sekarang Alkai bakar masih dipergunakan di Hadralmaut, Oman, Hijaz, dan pedalaman Irak. Alkai yang sejenis juga ditemukan di Romawi, Kurdistan, Armenia, dan Tibet. Dari sekian cara pengobatan Alkai, metode Alkai yang terkenal adalah metode Irak, Syam, Yaman, dan metode Iskandariah.


Walaupun terlihat seram, pengobatan ini hasilnya memang ampuh. Orang Arab menyebutkan bahwa pengobatan pamungkas yang ditempuh orang biasanya dengan Alkai. Akan tetapi karena pengobatan ini mencacatkan bagian tubuh yang terkena api membara dari alat Alkai (yang terbuat dari logam) dan umumnya menimbulkan cacat seumur hidup, maka Rasulullah saw tidak menyukainya. Beliau bersabda:

"Sesungguhnya pengobatan (untuk mencapai kesembuhan) itu ada pada tiga perkara, yakni minum madu, berbekam, dan mengobati dengan Alkai api. Maka, terlaranglah bagi umatku mengobati dengan Alkai api" (HSR Bukhari).
B. Awwaasin Alkai Baru
Orang-orang menyebutnya sebagai pengobatan Alkai khusus. Jenis ini ada pada thabib-thabib yang mengkajinya pada tingkat menengah dan tinggi, lulusan sekolah tinggi kedokteran. Alat-alatnya halus, beraneka ragam, bersih, dan serta cacat pada alatnya sedikit. Oleh tabib Alkai jenis ini, seorang pasien diperiksa terlebih dahulu. Kemudian dikaji titik penyakitnya dengan mengukurnya dengan teliti, agar tidak salah mengobati. Bila pasiennya berpenyakit jantung yang parah, mereka berikan minuman yang menyebabkan kebal sakit (semacam analgesik atau hipnotikum).

Pada masa pertumbuhan kedokteran Islam, telah dipergunakan alat Alkai baru dalam aneka bentuk, terbuat dari batangan besi yang halus dan khas bentuknya. Selain itu, bagian tubuh yang akan dicap (ditusuk) dengan alat Alkai tersebut, terlebih dahulu dilumasi dengan sejenis cairan obat yang bernama "Al Bats". Dengan cara demikian, bagian tubuh yang dicap tidaklah terasa terlalu panas. Lagi pula, cara ini tidak sampai mencacatkan tubuh (hanya lecet-lecet).

Kemudian cara tersebut disempurnakan oleh Abu Hazem Ibnu Billam Asy Syahrani. Beliau mencoba mencap batangan Alkai ke tubuh pasiennya dengan terlebih dahulu memanaskan batangan tersebut, lalu batang besi itu dicelupkannya ke dalam sejenis obat yang dilarutkan ke dalam minyak Zaitun. Barulah kemudian batangan besi itu dicapkan ke tubuh pasien dengan tekanan yang sedang-sedang saja kadarnya. Ternyata hasilnya bagus dan sama dengan cara di atas. Namun untuk kasus dipatuk ular atau gigitan anjing gila, Abu Hazem tetap mempergunakan Alkai bakar. Di lembaga pendidikan kedokteran, metode Abu Hazem ini turut dikembangkan oleh beberapa orang thabib. Tetapi sebagian besar thabib di lembaga pendidikan semacam ini masih tetap mempertahankan metode Alkai lama (model yang dibakar).


Metode Alkai terus diperbaharui. Api untuk menghangatkan batangan besi kemudian hari diganti dengan cairan obat yang pengobatannya disesuaikan dengan jenis penyakit pasien. Tentu saja cara tersebut memerlukan pengkajian yang lama dan tekun. Hanya satu dua orang thabib saja yang berhasil menguasainya secara baik.

Metode Abu Hazem memang mengawali perkembangan Alkai modern. Kemudian muncullah metoda "Awwaasin Alkai". Awwaasin artinya alat atau perkakas yang umumnya berupa batangan logam (terbuat dari logam mulia), seperti emas, perak, dan yang sejenisnya. Batangan inilah yang dipergunakan untuk menghantarkan cairan obat ke tubuh pasien. Selain itu, alat ini juga dibantu oleh alat-alat lain yang disebut "Tamad Al Aus" (misalnya pinset, skalpel, tang penjepit, dan lain-lainnya).

Awwaasin Alkai berkembang sejalan dengan perkembangan ilmu anatomi, ilmu penyakit, fisiologi (faal), dan cabang-cabang ilmu kedokteran lainnya. Pada metode pengobatan ini juga dikenal cara mendiagnosa penyakit, rasahan (ramuan, racikan) obat dan terapinya. Metode pengobatan ini Selain juga dilengkapi dengan obat, anestesi, alat bedah, dan lain-lain. Alat suntik juga dipakai dan diberi nama "Aus An Nadlal" (kata Needle; jarum suntik, berasal dari peristilahan Awwaasin Alkai) untuk menghantarkan obat ke tubuh pasien melalui habel-habel tubuh. Habel adalah salah satu unsur tubuh (selain saraf, pembuluh darah, tulang, otot, saluran limfe, yang oleh kalangan kedokteran dan akupuncturis menyebutkannya sebagai “saluran keempat), yang berupa tali-tali yang saling berhubungan di seluruh tubuh. Namun, Alkai ini meredup peran setelah jarum suntik yang ditemukan oleh thabib-thabib bangsa Turki di Istambul, yang di antaranya Abubakar (berasal dari kota Jaks, sebuah tempat dekat kota Istambul), mengambil alih peran pengobatan ini.

Tokoh Awwaasin Alkai

Nama lengkap Ahmad Ibnu Ruman adalah Ahmad Ibnu Ruman Ibnu Natari Abdurrahman Ibnu Ma'shum Ibnu Utsman Asy Syahrani. Ia kurang dikenal namun tak terpisahkan dari model pengobatan Awwaasin Alkai. Orang mengenal nama Ibnu Ruman melalui kitab-kitab karangannya yang jumlahnya terbatas. Hampir semua kitab karangannya khusus dikarang untuk kajian mahasiswa kedokteran. Nama Ibnu Ruman pada lidah Eropah dikenal dengan "Ave Room" atau "Saren".

Menurut cerita seorang sahabatnya, Ibnu Ruman adalah seorang thabib keturunan Persia dan Arab, dan darah Turki dari pihak ibunya. Ia seorang lulusan sekolah tinggi ilmu kedokteran. Lepas lulus, ia mengkaji Alkai yang ia dapatkan dari seorang thabib Hadralmaut. Tetapi kemudian, api pembakar batangan Alkai yang biasanya digunakan, ia ganti dengan cairan obat yang dapat meresap ke dalam tubuh.

Dalam usaha memperbaharui pengobatan ini, ia mengembara ke Afghanistan, Turkistan, dan bahkan sampai ke Negeri Cina. Ia banyak bersahabat dengan bangsa Uigur (Wigu). Karena itu, pengarang kitab "Daht Wa Naht" banyak mengutip fatwanya. Dari Turkistan, ia pernah bersafari ke pedalaman Hindustan sampai Madyadesh.

Riwayat hidup Ibnu Ruman secara lengkap belum diketahui. Sebab ahli sejarah tidak mencatat namanya. Ada beberapa sebab mengapa hal tersebut terjadi. Pertama, ia bukan thabib istana. Kedua, ia dianggap terlalu islami. Tersebutlah bahwa jika ada obat ataupun cara pengobatan yang bertentangan dengan syara, ia langsung menentangnya dengan keras. Di dalam kitabnya, ia menentang penggunaan khamar dalam pangobatan. Juga ditentangnya ilmu kekahinan (dukun), khurafat, takhayul, filsafat dan asas ashabiah (faham kesukuan dan kebangsaan). Ibnu Ruman menyebutkan bahwa ashabiah itu adalah penyakit masyarakat.

Keahlian Ibnu Ruman antara lain dicatat orang adalah: ia seorang dokter, apoteker, biolog, ahli ilmu pengetahuan alam, astronomy, sejarawan, morasses, ahli hadits, dan psikolog. Semua kitab Ibnu Ruman berdalilkan Al Quraan dan Sunnah Nabi saw. Kitab-kitabnya yang masih ditemukan antara lain kitab "Thib An Nafs" yang terdiri atas dua jilid, "Thib An Nabah" yang terdiri atas enam jilid, dan "Awwaasin Alkai" yang terdiri atas delapan jilid.


Sumber : http://alkay-indonesia.blogspot.co.id/2009/03/pengobatan-awwaasin-alkai-dan-ahmad.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar