Rabu, 05 Oktober 2016

CASH FLOW

CASH FLOW
Cash flow ( aliran kas ) merupakan sejumlah uang kas yang keluar dan yang masuk
sebagai akibat dari aktivitas perusahaan, dengan kata lain adalah aliran kas yang terdiri
dari aliran masuk dalam perusahaan dan aliran kas keluar perusahaan serta berapa
saldonya setiap periode.
Hal utama yang perlu selalu diperhatikan yang mendasari dalam mengatur arus kas adalah
memahami dengan jelas fungsi dana / uang yang kita miliki, kita simpan atau investasikan.
Secara sederhana fungsi itu terbagi menjadi tiga yaitu :
1. fungsi likuiditas, yaitu dana yang tersedia untuk tujuan memenuhi kebutuhan seharihari
    dan dapat dicairkan dalam waktu singkat relatif tanpa ada pengurangan investasi
    awal.
2. fungsi anti inflasi, dana yang disimpan guna menghindari resiko penurunan pada daya
    beli di masa datang yang dapat dicairkan dengan relatif cepat.
3. capital growth, dana yang diperuntukkan untuk penambahan / perkembangan
    kekayaan dengan jangka waktu relatif panjang.


Aliran kas yang berhubungan dengan suatu proyek dapat di bagi menjadi tiga kelompok
yaitu:
1. Aliran kas awal ( Initial Cash Flow ) merupakan aliran kas yang berkaitan dengan
    pengeluaran untuk kegiatan investasi misalnya; pembelian tanah, gedung, biaya
    pendahuluan dsb. Aliran kas awal dapat dikatakan aliran kas keluar ( cash out flow ).
2. Aliran kas operasional ( Operational Cash Flow ) merupakan aliran kas yang
    berkaitan dengan operasional proyek seperti; penjualan, biaya umum, dan administrasi.
    Oleh sebab itu aliran kas operasional merupakan aliran kas masuk ( cash in flow ) dan
    aliran kas keluar ( cash out flow ).
3. Aliran kas akhir ( Terminal Cash Flow ) merupakan aliran kas yang berkaitan dengan
    nilai sisa proyek ( nilai residu ) seperti sisa modal kerja atau nilai sisa proyek lainnya
    yaitu penjualan peralatan proyek.


KETERBATASAN CASH FLOW
Cash flow mempunyai beberapa keterbatasan-keterbatasan antara lain:
1. Komposisi penerimaan dan pengeluaran yang dimasukan dalam cash flow hanya yang
    bersifat tunai.
2. Perusahaan hanya berpusat pada target yang mungkin kurang fleksibel
3. Apabila terdapat perubahan pada situasi internal maupun eksternal dari perusahaan
    yang dapat mempengaruhi estimasi arus kas masuk dan keluar yang seharusnya
    diperhatikan, maka akan terhambat karena manager hanya akan terfokus pada budget
    kas, misalnya kondisi ekonomi yang kurang stabil, terlambatnya customer dalam
    memenuhi kewajibannya.


MANFAAT CASH FLOW
Adapun kegunaan dalam menyusun estimasi cash flow dalam perusahaan sangat berguna
bagi beberapa pihak terutama manajemen, diantaranya :
1. Memberikan seluruh rencana penerimaan kas yang berhubungan dengan rencana
    keuangan perusahaan dan transaksi yang menyebabkan perubahan kas.
2. Sebagian dasar untuk menaksir kebutuhan dana untuk masa yang akan datang dan
    memperkirakan jangka waktu pengembalian kredit.
3. Membantu menager untuk mengambil keputusan kebijakan finansial.
4. Untuk kreditur dapat melihat kemampuan perusahaan untuk membayar kredit yang
    diberikan kepadanya.


LANGKAH-LANGKAH PENYUSUNAN CASH FLOW
Ada empat langka dalam penyusunan cash flow, yaitu :
1. Menentukan minimum kas
2. Menyusun estimasi penerimaan dan pengeluaran
3. Menyusun perkiraan kebutuhan dana dari hutang yang dibutuhkan untuk menutupi
    defisit kas dan membayar kembali pinjaman dari pihak ketiga.
4. Menyusun kembali keseluruhan penerimaan dan pengeluaran setelah adanya transaksi
    finansial dan budget kas yang final.


Cash flow memuat tiga bagian utama, yang terdiri dari:
1. Cash in flow, pada bagian ini mengidentifikasi sumber-sumber dana yang akan diterima, jumlah   dananya dan waktu dalam periode tersebut, yang akan dihasilkan berupa penjualan tunai, penjualan kredit yang akan menjadi piutang, hasil penjualan aktiva tetap dan penerimaan lainnya. Perincian kas ini terdiri dari dua sifat, yaitu kontinyu dan intermitan.
2. Cash out flow, pada bagian ini berhubungan dengan pengidentifikasian semua kas yang
    sudah diantisipasi, antara lain pembelian barang dagang baku, pembayaran hutang,
    upah, administrasi, dan pengeluaran lainnya. Cash out flow juga punya dua sifat yang
    sama yaitu kontinyu dan intermitan
3. Financing ( pembiayaan ), pada bagian ini menunjukan besarnya net cash flow dan
    besarnya kebutuhan dana jika terjadi defisit


Pendahuluan
Tujuan utama perusahaan tidak lagi berorientasi pada pemaksimalan profit semata,
melainkan lebih pada pemaksimalan kemakmuran para pemegang sahamnya, melalui
maksimalisasi nilai perusahaan.Tujuan perusahaan dalam mengoptimalisasi nilai perusahaan tersebut dapat dicapai dengan melaksanakan fungsi dari manajemen keuangan (Fama dan French, 1998). Nilai perusahaan merupakan bersedianya calon pembeli untuk membayar harga saham apabila perusahaan tersebut dijual (Husnan dan Pudjiastuti, 2002). Calon pembeli yang dimaksud adalah pemegang saham atau investor.

Aji dan Mita (2010) menyatakan bahwa nilai perusahaan dapat didefinisikan melalui
Price to BookValue Ratio (PBV) yang dihasilkan dari rasio antara nilai pasar ekuitas
perusahaan terhadap nilai buku ekuitas perusahaan. Nilai perusahaan dapat diindikasikan
dengan menggunakan PriceBook Value (PBV) Hardiyanti (2012). Price to book value
merupakan hasil perbandingan antara harga saham dengan nilai buku per lembar
saham.Semakin besar rasio PBV suatu perusahaan, maka para investor semakin tinggi
menilai perusahaan tersebut.

Untuk meningkatkan nilainya, perusahaan tentu harus dapat meningkatkan kinerjanya
terlebih dahulu, sehingga para pemegang saham menunjuk manajer untuk mengelola
perusahaan.Adanya pemisahan pengendalian dalam perusahaan dapat memunculkan
hubungan keagenan, di mana manajer sebagai agen dan pemegang saham sebagai prinsipal (Jensen dan Meckling, 1976). Kinerja perusahaan dapat diukur menggunakan rasio-rasio keuangan.

Penelitian ini menggunakan salah satu rasio profitabilitas, yaitu ROA sebagai indikator
kinerja keuangan, karena variabel ini menunjukkan pengukuran kinerja yang lebih baik dalam beberapa penelitian sebelumnya (Dodd and Chen, 1996). Return On Assets(ROA) sebagai proksi dari kinerja keuangan. Menurut Tandelin (2001:40),Return On Assets menggambarkan seberapa besar kemampuan aset-aset yang dimiliki perusahaan dapat menghasilkan laba.Penelitian yang dilakukan oleh Ulupui (2009) menyatakan bahwa ROA berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham, sehingga ROA merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi nilai perusahaan.

Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 2 Paragraf 05 (IAI, 2007),
arus kas atau cash flow didefinisikan sebagai arus masuk dan arus keluar kas atau setara
kas.Cash flow atau laporan arus kas mengklasifikasikan transaksi ke dalam tiga kegiatan,
yaitu operasi, pembiayaan, serta investasi. Permasalahan cash flow ditunjukkan oleh
penggunaan free cash flow.Pemegang saham menginginkan agar free cash flow dibagikan
sebagai dividen, sedangkan manajer menginginkan agar free cash flow digunakan untuk
investasi yang nantinya dapat menguntungkan pihak manajer.

Brigham dan Houston (2006) mendefinisikan free cash flow sebagai arus kas yang tersedia untuk didistribusikan kepada seluruh investor setelah perusahaan menginvestasikan dananya pada aset tetap, produk-produk baru dan modal kerja yang diperlukan untuk mempertahankan kelangsungan operasi perusahaan. Apabila suatu perusahaan memiliki arus kas bebas yang berlebih, maka perusahaan tersebut cenderung memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan perusahaan yang memiliki arus kas bebas yang rendah (Jensen, 1986).

Free cash flow yang terdapat pada perusahaan tentu akan mempengaruhi kinerja perusahaan tersebut. Arus kas bebas atau free cash flow dapat diartikan sebagai adannya dana yang berlebih, yang seharusnya dapat didistribusikan kepada para pemegang saham namun keputusan tersebut dipengaruhi oleh kebijakan manajemen (Arieska dan Gunawan, 2011).Penelitian Minton dan Schrand (1999) menyatakan cash flow berpengaruh negatif terhadap investasi perusahaan. Hal ini dikarenakan cash flow yang terdapat dalam perusahaan sebagian besar digunakan untuk membiayai riset dan pengembangan, serta biaya iklan, sedangkan untuk investasi memiliki porsi yang kecil.

Namun, menurut penelitian yang dilakukan Wang (2010) pada perusahaan go public di Taiwan, free cash flow berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan. Artinya, semakin tinggi free cash flow yang terdapat pada perusahaan, maka kinerja perusahaan akan semakin baik. Penelitian lain yang dilakukan Gregory dan Wang (2010) di Inggris menemukan bahwa perusahaan yang memiliki free cash flow yang tinggi menghasilkan return yang lebih baik daripada perusahaan dengan free cash flow rendah.Free cash flow yang tinggi pada perusahaan hanya dapat menjadi masalah ketika perusahaan memiliki sedikit kesempatan investasi. Kondisi seperti itu akan membuat manajer tergoda untuk menggunakan free cash flow yang tidak menguntungkan perusahaan (Jensen,1988).
Berdasarkan pemaparan di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai
berikut.
H1: Cash flow berpengaruh pada kinerja keuangan.
H2: Cash flow berpengaruh pada nilai perusahaan.
H3 : Kinerja keuangan berpengaruh pada nilai perusahaan.
H4 : Kinerja keuangan memediasi pengaruh cash flow pada nilai perusahaan.

Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan populasi perusahaan manufaktur untuk menghindari terjadinya efek industri. Jumlah populasi sebanyak 146 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Periode penelitian dipilih pada dua tahun terakhir yaitu tahun 2011 sampai 2012 sehingga mendapatkan data terkini perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Selain itu, pemilihan periode tersebut dikarenakan sejak tahun 2011 sektor manufaktur Indonesia mulai bangkit, terlihat dari aktivitas ekspor dan kontribusinya dalam pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat (www.anneahira.com). Sedangkan sampel penelitian ini adalah 67 perusahaan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Untuk jenis data yang digunakan yaitu data kuantitatif dan sumber datanya berupa data sekunder. Metode pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi non partisipandengan pengumpulan informasi melalui situs Bursa Efek Indonesia (www.idx.co.id).

Terdapat tiga variabel di dalam penelitian ini, yaitu variabel terikat (Y) yaitu nilai perusahaan, variabel bebas (X) yaitu cash flow, dan variabel intervening (M) yaitu kinerja keuangan. Variabel nilai perusahaan diproksikan dengan price to book value (PBV) yang merupakan perbandingan dari harga pasar saham dengan nilai bukunya.Cash flow diproksikan dengan free cash flowyang merupakan perhitungan dari arus kas operasi dikurangi pengeluaran modal, dikurangi modal kerja bersih perusahaan. Kinerja keuangan diproksikan dengan Return on Total Assets(ROA) yang dapat dicari dengan membandingkan laba komprehensif dengan total aset perusahaan kemudian dikalikan seratus persen.

Pada penelitian ini digunakan teknik analisis data berupa analisis jalur (path analysis)
yang merupakan perluasan dari analisis regresi linear berganda. Persamaan substruktur 1 dan
substruktur 2 adalah sebagai berikut.
M = p2X + e1……………………………..............................…..(1)
Y = p1X + p3M + e2……………………….................................(2)
Keterangan :
X : Free Cash Flow
M : Kinerja Keuangan
Y : Nilai Perusahaan
p : Koefisien regresi standarized
e : Error of term atau variabel pengganggu
Pada analisis jalur terdapat tiga jenis koefisien, yaitu koefisien pengaruh langsung,
pengaruh tidak langsung dan pengaruh total.

Pengaruh langsung free cash flow ke nilai perusahaan = p1
Pengaruh tidak langsung free cash flow
ke kinerja keuangan ke nilai perusahaan = p2 x p3
Pengaruh total (korelasi free cash flow ke nilai perusahaan) = p1+(p2xp3)
Untuk memastikan agar hasil prediksi analisis regresi tidak bias serta tidak melanggar
asumsi-asumsi metode kuadrat terkecil yaitu BLUE (Best, Linear, Unbias Estimator), maka uji asumsi klasik perlu dilakukan di mana meliputi uji multikolinearitas, autokorelasi, dan heterokedastisitas, serta terdapat pula teknik analisis data berupa pengujian hipotesis (uji t). Persyaratan dari uji multikolinearitas adalah model regresi harus memiliki nilai VIF diatas 10 atau nilai tolerance di atas 0,10. Model regresi yang dinyatakan lolos uji autokorelasi apabila nilai Durbin Watson (DW) lebih besar dari du dan lebih kecil dari 4−du. Model regresi dapat terhindar dari gejala heteroskedastisitas jika sig. t masing-masing variabel bebas lebih besar dari 0,05.

Hasil dan Pembahasan
Jumlah perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2011 hingga 2012 adalah sebanyak 146 perusahaan. Sebanyak 5 perusahaan tidak listingdi BEI periode 2011- 2012 secara berturut-turut, 40 perusahaan tidak mempublikasikan laporan keuangan dan annual report secara berturut-turut tahun 2011 sampai 2012 di website BEI, 15 perusahaan melakukan merger atau akuisisi selama periode penelitian, dan 19 perusahaan menggunakan mata uang asing di dalam laporan keuangannya, sehingga perusahaan tersebut tidak sesuai dengan kriteria penentuan sampel.Perusahaan yang terpilih untuk dijadikan sampel yaitu sebanyak 67, dengan total pengamatan sebanyak 134 perusahaan (jumlah perusahaan terseleksi x 2 tahun periode pengamatan).

Berdasarkan hasil pengujian statistik deskriptif, variabel nilai perusahaan (NP) yang diproksikan dengan PBV memiliki nilai minimum sebesar -52,14 dan nilai maksimum sebesar 47,27. Rata-rata variabel nilai perusahaan adalah 2,2327 dengan standar deviasi sebesar 7,39848. Pada variabel kinerja keuangan (KK) yang diproksikan dengan ROA memiliki nilai minimum sebesar -14,10 dan nilai maksimum sebesar 41,65. Rata-rata variabel ini adalah 7,9369 dengan standar deviasi sebesar 7,40224. Variabel cash flow yang diproksikan dengan free cash flow memiliki nilai terkecil (Minimum) sebesar Rp -842.753.167.677,00 dan nilai terbesar (Maximum) adalah Rp 749.265.000.000,00. Rata-rata free cash flow perusahaan dari 134 jumlah pengamatan adalah Rp -229.246.477.952,15 dengan standar deviasi Rp 297.294.798.889,74.

Pada penelitian ini dilakukan dua kali regresi. Untuk uji asumsi klasik, model regresi substruktur 1 tidak dilakukan uji multikolinearitas karena hanya terdiri dari 1 variabel bebas, sedangkan untuk regresi substruktur 2, nilai tolerance yang didapat dari analisis sebesar 0,919 dan nilai VIF sebesar 1,088. Tidak ada variabel independen yang memiliki koefisien tolerance lebih kecil dari 0,10, dan VIF lebih besar dari 10, sehingga tidak terdapat gejala multikolinear.

Nilai Durbin-Watson regresi substruktur 1 sebesar 2,100 lebih besar dari (dU) 1,7329 dan kurang dari 4 – 1,7329 (4 - dU). Untuk regresi substruktur 2, nilai Durbin-Watson adalah 1,885 lebih besar dari (dU) 1,7482 dan kurang dari 4 – 1,7482 (4 - dU). Sehingga dapat disimpulkan kedua model regresi tersebut tidak mengandung gejala autokorelasi. Pada uji heteroskedastisitas regresi substruktur 1, sig.t free cash flow sebesar 0,293. Untuk regresi substruktur 2, sig.t free cash flow sebesar 0,743 dan kinerja keuangan sebesar 0,371. Hasil uji asumsi klasik yang dilakukan menunjukkan bahwa data penelitian ini bebas dari gejala multikolinearitas, autokorelasi, dan heteroskedastisitas.Oleh karena itu, data penelitian ini dapat dilanjutkan untuk diolah dengan analisis jalur.

Berdasarkan hasil analisis jalur, persamaan struktural substruktur 1 adalah sebagai
berikut.
M = - 0,284 X + e1………………………………..............(3)
Dari persamaan substruktur 1, dapat diketahui nilai koefisien jalur cash flow negatif
sebesar -0.284, yang memiliki arti jika cash flow meningkat sebesar satu rupiah, maka kinerja
keuangan akan menurun sebesar 0.284 persen atau sebaliknya.Hasilanalisis jalur menjadikan
persamaan struktural substruktur 2 sebagai berikut.
Y = 0,191 X + 0,186 M + e2………………………………..(4)

Berdasarkan persamaan substruktur 2, dapat diketahui nilai koefisien jalur cash flow sebesar 0,191, di mana memiliki arti jika cash flow meningkat sebesar satu rupiah, maka nilai perusahaan juga meningkat sebesar 0,191 kali atau sebaliknya. Koefisien jalur kinerja keuangan sebesar 0,186 memiliki arti jika kinerja keuangan meningkat sebesar satu persen, maka nilai perusahaan meningkat pula sebesar 0,186 kali atau sebaliknya.

Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan hasil penelitian yang telah diuraikan, maka dapat disimpulkan bahwa :
1.cash flow berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kinerja keuangan.
2. cash flow memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan, kinerja keuangan memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.
3. cash flow terhadap nilai perusahaan tidak dimediasi oleh kinerja keuangan. 


Sumber : dokumen.tips/documents/jurnal-konsep-cashflow.html 
                aurelio.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/42774/9_Aspek-Keuangan-2.pdf